> For the complete documentation index, see [llms.txt](https://pgrtldrid.gitbook.io/main/llms.txt). Markdown versions of documentation pages are available by appending `.md` to page URLs; this page is available as [Markdown](https://pgrtldrid.gitbook.io/main/affection-story/limpidity.md).

# Liv: Limpidity

![](https://3561806657-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FquS8tcvXaN6rGmTpzPZM%2Fuploads%2Fgit-blob-7706b8296678f83934300c58be89520c3e2844c2%2Flimpidity.webp?alt=media)

**Story ini memiliki voiceover serta komik, saya sarankan untuk mambacanya langsung di game nya**

## Liv: Limpidity I

![](https://3561806657-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FquS8tcvXaN6rGmTpzPZM%2Fuploads%2Fgit-blob-114737ca618c05537bc0afadc008ce914587e1fc%2Flimpidity1.webp?alt=media)

* Cerita dibuka dengan visualisasi puitis tentang seorang gadis yang sendirian di dunia yang terlupakan (The Maiden of Eden), melambangkan narasi atau estetika dari lukisan yang sedang dilihat.
* Liv tersadar dari lamunannya di depan lukisan tersebut ketika Profesor Hippocrates menegurnya karena berdiri terlalu dekat.
* Profesor Hippocrates menggunakan alasan penelitian sosiologi mengenai hubungan interpersonal (Positive Affective Expression Behaviors) untuk mendorong Liv dan SKK pergi bersama.
* Petugas galeri mengonfirmasi bahwa lukisan tersebut dibuat oleh pelukis bernama Vimine di kota Vennquis, yang kemudian diakui Liv sebagai kampung halamanya.
* Meskipun Liv sempat ragu karena memiliki jadwal pelatihan adaptasi, Profesor Hippocrates meyakinkan bahwa menstabilkan M.I.N.D. dengan menikmati hidup bersama SKK adalah pelatihan terbaik. Profesor kemudian memberikan tiket transportasi BG-3789 yang berangkat dalam dua jam.
* Di atas kapal menuju area konservasi, Profesor Hippocrates berbicara berdua dengan SKK saat Liv sedang berkemas.
* Profesor mengingatkan SKK untuk menjaga koneksi tetap kuat dan menjaga kestabilan M.I.N.D. Liv, serta memperingatkan bahwa SKK mungkin akan melihat memori masa lalu Liv yang bahkan sudah dilupakan oleh gadis itu sendiri.
* Profesor memberikan sebuah kotak hadiah putih misterius untuk diberikan kepada Liv.
* Setelah beberapa waktu, Liv menemui SKK di dek kapal dengan mengenakan pakaian khusus (coating) yang ada di dalam kotak tersebut. Liv mengaku bersedia memakainya karena Profesor meninggalkan catatan bohong yang menyebutkan bahwa SKK sangat ingin melihatnya memakai pakaian itu.
* Kapal mendekati tujuan dan ditandai dengan terlihatnya sebuah menara kincir angin yang menjulang ke awan.
* Dua buah pesawat kertas mendarat di dekat Liv dan SKK. Pesawat kertas tersebut berisi tulisan permohonan dari anak-anak setempat kepada "Dewa Angin".
* Anak laki-laki menuliskan keinginan untuk bertemu Commandant Gray Raven yang legendaris, sementara anak perempuan meminta kehadiran seorang malaikat.
* Liv dan SKK menemui kedua anak tersebut, membuat anak-anak itu gembira karena merasa permohonan mereka langsung dikabulkan oleh Dewa Angin. Liv menjelaskan bahwa menerbangkan pesawat kertas berisi harapan adalah tradisi di kota Vennquis.
* Ketika Liv bertanya tentang jalan raya ke arah utara, anak-anak tersebut menjelaskan bahwa jembatan tua di utara sudah lama hancur. Mereka menyarankan untuk mengambil jalur hutan di sebelah selatan.
* Anak-anak tersebut juga memberikan peringatan untuk berhati-hati terhadap "hantu abu-abu" (gray ghost) yang berbentuk seperti burung aneh menakutkan dan memiliki penjaga monster logam. Cerita berakhir dengan Liv yang termenung memikirkan identitas asli dari hantu abu-abu tersebut.

## Liv: Limpidity II

![](https://3561806657-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FquS8tcvXaN6rGmTpzPZM%2Fuploads%2Fgit-blob-d8f03031c88cd8581c6082d8d890d039ee0cfd42%2Flimpidity2.webp?alt=media)

* Cerita dimulai dengan SKK yang mengalami sebuah visi abstrak tentang seekor gagak abu-abu kecil yang terluka, dirawat dengan penuh kasih sayang oleh seorang gadis berbaju putih di Eden, lalu terbang kembali ke langit.
* SKK tersadar dari visi tersebut oleh Liv, yang mengkhawatirkan kondisi SKK akibat cuaca panas selama perjalanan menyusuri hutan.
* Mereka berdua akhirnya tiba di kota Vennquis, sebuah area di lereng gunung dengan rumah-rumah tua yang relatif utuh karena terlindungi oleh geografi alam dari wabah Punishing Virus.
* Di Vennquis, mereka bertemu dengan Vimine, seorang construct seniman dari WGAA yang sedang bertugas mendokumentasikan pemandangan kota untuk pameran lukisan Babylonia.
* Vimine sempat menggoda SKK dan Liv tentang hubungan mereka, sebelum akhirnya menyadari bahwa kota tersebut adalah kampung halaman Liv.
* Vimine mengungkapkan bahwa ia mengenal ibu Liv, Antonia, dan bahkan pernah menggendong Liv saat masih kecil.
* Sebelum pergi untuk melanjutkan lukisannya di dekat menara kincir angin, Vimine memperingatkan mereka tentang potensi badai (hurricane) musiman yang bisa melanda Vennquis di musim panas.
* Liv dan SKK berjalan menuju rumah masa kecil Liv. Setibanya di sana, Liv mengalami halusinasi atau kilas balik emosional yang kuat, melihat bayangan ibunya di ayunan halaman rumah, namun bayangan itu langsung lenyap saat didekati.
* Pintu depan rumah terkunci rapat. SKK memutuskan masuk secara diam-diam melalui jendela berdebu untuk memeriksa bagian dalam, menemukan rumah yang sudah lama kosong, berdebu, dan berjamur.
* Di luar rumah, Liv berjalan perlahan ke arah pintu. Narasi mengungkapkan trauma masa kecil Liv: ia membenci pintu depan karena mengingatkannya pada perlakuan dingin dari ayah, ibu tiri, dan saudara tirinya setelah kematian ibunya. Sebaliknya, pintu belakang adalah tempat ia dulunya disambut dengan kehangatan oleh ibu dan pelayannya, Calliope.
* Terjebak dalam ingatan masa lalu yang menyesakkan (digambarkan secara metaforis seperti terlilit tanaman merambat), Liv akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu sambil berharap ada seseorang yang menyambutnya.
* Pintu terbuka, dan SKK berdiri di sana untuk menyambut Liv kembali "Welcome home". Mengetahui ada seseorang yang menunggunya, ilusi tanaman merambat yang membelit Liv runtuh, dan Liv langsung memeluk SKK dengan penuh haru.

## Liv: Limpidity III

![](https://3561806657-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FquS8tcvXaN6rGmTpzPZM%2Fuploads%2Fgit-blob-a31a75870ecbb5a326aaf11457ec410d833c2bda%2Flimpidity3.webp?alt=media)

* Cerita dibuka dengan kelanjutan alegori dongeng: Sang Gadis di Eden terus memaksakan diri merakit potongan kertas makhluk-makhluk yang terluka meskipun tubuhnya sendiri perlahan memudar dan menjadi transparan terkena cahaya matahari.
* Gagak abu-abu kecil mencoba menghentikannya dengan menggigit keliman bajunya, namun Sang Gadis menolak karena tidak tega mendengar makhluk-makhluk tersebut menangis kesakitan.
* Ketika angin kencang menerbangkan potongan-potongan kertas tersebut melewati pegunungan, si gagak abu-abu terbang menerjang badai untuk mengumpulkannya kembali demi Sang Gadis. Si gagak tetap setia menemani sambil menyimpan pertanyaan mendalam mengapa gadis tersebut harus memperbaiki dunia ini seorang diri.
* Kembali ke realitas, SKK menyalakan lampu meja kuning di dalam rumah kuno Liv. Liv merasa asing karena perabotan di rumahnya tidak pernah menyambutnya, melainkan SKK-lah yang memberikan kehangatan itu.
* Liv menceritakan masa kecilnya yang kesepian setelah ibunya meninggal. Ayahnya menikah lagi dan pelayan setianya, Calliope, juga pergi, sehingga Liv kecil lebih sering menghabiskan waktu di basis rahasia halaman belakang.
* Liv dan SKK mulai mencari buku-buku cerita masa kecil peninggalan ibunya di rak buku sang ayah. Namun, Liv menyadari situasi yang aneh: semua barang milik ibunya—mulai dari pesawat layang (glider) berwarna abu-abu perak di halaman hingga sisir dan buku-bukunya—telah hilang tanpa jejak.
* Mengingat ayahnya sangat mencintai ibunya dan tidak mungkin membuang barang-barang tersebut, Liv menduga bahwa sang ayah menyembunyikannya di tempat lain, yaitu di basis rahasia masa kecil mereka.
* Suasana hati Liv berubah menjadi ceria dan ia berjalan ringan sambil bersenandung memimpin jalan keluar rumah menuju tepi hutan.
* Ketika mereka mulai memasuki area hutan yang bayang-bayangnya bergerak mengikuti langkah mereka, insting bertarung SKK mendadak aktif karena merasakan ada seseorang atau sesuatu yang sedang mengintai mereka.
* Sesosok bayangan hitam melintas dengan cepat di dekat mereka. Liv menduga bahwa bayangan misterius tersebut adalah "hantu abu-abu" (gray ghost) yang sebelumnya diceritakan oleh anak-anak pesisir. SKK segera menginstruksikan agar mereka bersiap menghadapi pertempuran.

![](https://3561806657-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FquS8tcvXaN6rGmTpzPZM%2Fuploads%2Fgit-blob-a7a9699b6d7e62b6c94f13398e8091b6db0afdaa%2Flimpidity3-1.webp?alt=media)

* Pertempuran singkat di hutan berakhir setelah SKK dan Liv berhasil melucuti senjata sebuah unit mechanoid bernama G94.
* G94 awalnya menolak menyerah karena mengira mereka adalah Punishing Virus. G94 menjelaskan bahwa ia menjalankan perintah tuannya untuk melenyapkan siapa pun selain "tuan kecilnya" yang bernama Liv jika mendekati "Gray Wing".
* Setelah melewati penjelasan panjang mengenai modifikasi Construct dan menjawab sepuluh pertanyaan keamanan tentang ibu Liv, G94 akhirnya mengenali Liv dalam wujud barunya dan mengonfirmasi SKK sebagai pemimpinnya.
* G94 menuntun mereka jauh ke dalam hutan dan menunjukkan sebuah pesawat terbang perak dari Golden Age berkode "Gray Wing-537".
* Saat menyentuh sayap pesawat tersebut, SKK mengalami perjalanan mental/visi mendalam yang terasa sangat nyata, sebelum akhirnya disadarkan kembali oleh Liv.
* Mereka melanjutkan perjalanan dan masuk ke dalam basis rahasia Liv. Di balik pintu, mereka menemukan tumpukan pesawat kertas yang sudah menguning dan rapuh. Setelah diperiksa, seluruh pesawat kertas tersebut kosong tanpa ada satu pun tulisan keinginan atau harapan dari Liv kecil.
* Liv kemudian menunjukkan sebuah meja rendah buatan seorang tukang kayu yang dipesan khusus oleh pelayan lamanya, Calliope. Di dalam laci meja tersebut, Liv memamerkan "harta karun" masa kecilnya yang tersimpan rapi, seperti bungkus permen emas, kelereng kaca, dan batu sungai yang halus.
* Liv membuka kain penutup sebuah rak buku besar, mengungkap jajaran buku cerita dongeng masa kecilnya yang masih utuh. Liv mengajak SKK untuk membaca buku-buku tersebut bersama-sama.
* Setelah membaca berbagai dongeng hingga malam tiba, Liv merasa sedih karena buku cerita spesifik yang dicarinya tidak ada di sana. Ia menolak memberi tahu judul cerita tersebut kepada SKK karena takut ceritanya berakhir buruk.
* Melalui sedikit candaan dan bujukan mengenai "penelitian" dari Profesor Hippocrates, Liv akhirnya setuju untuk menceritakan kisah tersebut. Ia meminta SKK untuk berbaring di pangkuannya sambil menutup mata, meniru posisinya saat mendengarkan dongeng dari ibunya dahulu.
* Cerita beralih ke kilas balik memori masa kecil Liv yang emosional: Kisah tentang "The Maiden of Eden" ternyata bukan sekadar dongeng dari buku, melainkan cerita lisan yang dibisikkan oleh ibunya, Antonia, saat mereka berdua sedang duduk di dalam pesawat terbang abu-abu (Gray Wing) tersebut.
* Dalam memori tersebut, Antonia yang terus terbatuk-batuk menyatakan bahwa ia harus pergi berlibur (isyarat bahwa ia akan meninggal) dan akan menjadi bintang di langit untuk menjaga Liv. Liv kecil kemudian berjanji akan menerbangkan pesawat abu-abu itu ke langit untuk mencari ibunya.

## Liv: Limpidity IV

![](https://assets.huaxu.app/glb/image/bgstory/bgstory533.webp)

* Kisah dibuka dengan kelanjutan dongeng alegoris di mana waktu terus berjalan hingga memasuki musim gugur dan musim dingin. Sang Gadis kembali mengorbankan partikel cahayanya sendiri demi menghidupkan alam kembali, hingga ia terkulai lemas di atas rumput.
* Si gagak abu-abu kecil setia menemani dan berharap dalam hati agar di dunia lain ia memiliki sayap yang cukup lebar untuk melindungi Sang Gadis dari badai, atau memiliki tangan lembut untuk menghapus air matanya.
* Sang Gadis mengungkapkan bahwa ia bertahan di tempat itu karena khawatir lembaran-lembaran kertas mahluk yang terluka tidak bisa menemukan jalan pulang. Ia meminta si gagak untuk terbang pulang sebelum badai musim dingin menyapu dirinya. Namun, si gagak menolak pergi dan memilih melingkar di dekat Sang Gadis agar saling menjaga kehangatan tubuh.
* Di dunia nyata, SKK terbangun di pagi hari oleh perhatian Liv yang sedang menyeka wajah SKK dengan handuk hangat. Liv terlihat sangat bersemangat dan ceria karena memiliki rencana khusus hari itu.
* Liv membawa SKK yang masih setengah sadar menuju sebuah bukit. Di sana, pesawat kuno Gray Wing sudah disiapkan.
* Liv mengajak SKK untuk terbang bersama menggunakan pesawat tersebut. Meskipun buku dongeng yang dicarinya belum ditemukan di rumah maupun di basis rahasia, Liv tidak ingin melewatkan kesempatan karena kondisi angin hari itu dirasa sangat pas.
* Mereka berdua naik ke kokpit dan mengayuh pedal bersama-sama untuk lepas landas dari bukit. Namun, pesawat tidak melambung tinggi melainkan hanya meluncur rendah di atas rerumputan dan terombang-ambing di atas permukaan laut.
* Karena mesin angin kekurangan daya akibat angin yang tiba-tiba melemah, mereka harus mengandalkan kekuatan kayuhan pedal. SKK memaksakan kekuatan eksoskeletonnya untuk membantu mengayuh, hingga pesawat berhasil naik sedikit lebih tinggi sebelum akhirnya angin benar-benar mati.
* Pesawat kehilangan kendali dan lurch violently (terguncang hebat). Liv mendadak lemas dan tumbang ke kursinya. Terungkap bahwa Liv diam-diam menguras tenaga frame Construct-nya sendiri untuk memicu daya angkat pesawat agar SKK tidak kelelahan. Pesawat akhirnya mendarat darurat secara kasar di tepi pantai yang dangkal.
* Di tepi pantai, Liv mengungkapkan alasan emosionalnya bersikeras menerbangkan pesawat tanpa bantuan daya buatan: ibunya pernah bercerita tentang legenda bahwa siapa pun yang terbang menembus angin bersama orang yang dicintai akan diberkahi oleh Dewa Angin untuk bersama seumur hidup.
* Saat penerbangan darurat tadi, sebuah buku tebal terjatuh dari sudut tersembunyi di dalam kokpit pesawat. SKK mengambil dan memberikan buku tersebut kepada Liv.
* Setelah memeriksa isinya selama lima belas menit, Liv memastikan bahwa itu bukan dongeng yang ia cari, melainkan buku kumpulan dongeng lain yang ditulis oleh seseorang bernama "Tilmin's Kjæreste Liv" (ditafsirkan sebagai dongeng oleh/untuk Liv).
* Buku tersebut memicu ingatan Liv secara utuh. Ia menyadari bahwa ilustrasi di dalam buku tersebut sangat familiar dan mirip dengan lukisan kota Vennquis yang ia lihat sebelumnya.
* Mereka berdua membuka halaman identitas buku dan menemukan nama sang ilustrator yang menggambar buku dongeng masa kecil Liv tersebut, yaitu Vimine.

## Liv: Limpidity V

![](https://assets.huaxu.app/glb/image/bgcg/cgqz206.webp)

* Liv dan SKK menemui Vimine di dasar menara kincir angin saat badai besar (hurricane) mulai menerjang kota Vennquis lebih cepat dari perkiraan cuaca.
* Liv menunjukkan buku dongeng yang ditemukannya dan bertanya tentang kelanjutan kisah serta identitas penulis bernama "Liv". Vimine awalnya mencoba menghindar karena khawatir akan akhir cerita yang sedih.
* Vimine akhirnya mengaku bahwa dongeng tersebut ditulis oleh ibu kandung Liv, Antonia. Nama pena "Tilmin Kjæreste Liv" merupakan frasa bahasa asing yang berarti "To my dearest Liv" (Untuk Liv tersayang). Buku tersebut adalah hadiah dan doa terakhir Antonia untuk anaknya.
* Mengetahui hal itu, Liv langsung berlari naik ke puncak menara kincir angin menuju sebuah gereja kecil tempat manuskrip asli dongeng tersebut disimpan.
* Di dalam gereja, Liv menemukan manuskrip tersebut di laci ketiga sebuah lemari dan membaca kelanjutan ceritanya secara langsung:
  * Di musim dingin, Sang Gadis sekarat dan meredup menjadi kabut pagi. Gagak abu-abu kecil terbang menembus awan dan badai ekstrem hingga mencapai bintang-bintang demi mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Sang Gadis.
  * Si gagak menyadari bahwa tempat tinggal mereka bukanlah bumi, melainkan taman mengapung bernama Eden, tempat penyembuhan mahluk terluka. Setiap kali Sang Gadis menyembuhkan jiwa, Eden akan terangkat lebih tinggi ke atmosfer yang dingin dan membuat Sang Gadis terisolasi dari dunia manusia yang dicintainya.
  * Perjuangan si gagak berakhir tragis. Kehabisan energi, tubuh si gagak hancur menjadi serpihan kertas dan jatuh terhempas angin badai. Manuskrip terhenti di bagian ini.
* Cerita beralih ke memori Vimine saat berada di kamar rumah sakit menjelang kematian Antonia. Saat itu, Antonia dalam kondisi kritis meminta Vimine meletakkan manuskrip yang belum selesai tersebut di gereja kincir angin.
* Sebelum mengembuskan napas terakhir, Antonia sempat memikirkan nasib Liv dan mempertanyakan apakah anaknya kelak akan menemukan kebahagiaan.
* Kembali ke realitas di menara kincir angin, Liv menyadari bahwa cerita "The Maiden of Eden" sebenarnya tidak pernah diselesaikan oleh ibunya karena keburu meninggal. Vimine sendiri mengaku tidak tahu bagaimana harus mengakhiri cerita tersebut.
* Setelah berpamitan dengan Vimine, Liv dan SKK berjalan pulang di bawah guyuran hujan lebat dan sambaran petir.
* Beban emosional dan kesedihan yang mendalam membuat stabilitas M.I.N.D. Liv terguncang hebat. Meskipun SKK mencoba menghubungkan Mind Beacon sebagai penopang, Liv mengalami luapan kilas balik memori masa kecilnya yang acak dan hancur seperti pecahan kaca.
* Cerita ini ditutup dengan visualisasi Liv yang berdiri mematung sendirian, basah kuyup, sementara seluruh bayangan memori hangatnya tersapu habis oleh angin dan hujan badai.

## Liv: Limpidity VI

![](https://assets.huaxu.app/glb/image/bgcomic/v400liv/v400_04_13.webp)

* Cerita berlanjut di tengah amukan badai dan hujan lebat di luar menara kincir angin. Melihat Liv tenggelam dalam kesedihan, SKK memutuskan untuk melakukan koneksi Deep M.I.N.D..
* Pandangan SKK mengabur oleh ilusi air dan badai hingga ia masuk ke dalam sebuah visi masa lalu kota Vennquis yang mendadak menyala terang oleh lampu-lampu kota. Namun, Liv wujud Construct menghilang dari sisinya.
* SKK memutuskan untuk mencari Liv dengan mendatangi rumah masa kecilnya.
* Setibanya di halaman rumah Liv, SKK mendengar keributan dari dalam dan disambut oleh ibu tiri Liv. Ibu tirinya tertawa saat mengetahui SKK mencari Liv, lalu memanggil Liv dengan ketus namun tidak ada jawaban.
* Ayah Liv yang mengenakan setelan jas dan membawa koper muncul sebentar dari dalam rumah, mengizinkan SKK masuk, lalu pergi terburu-buru menggunakan mobil hitam sambil menitipkan pesan singkat agar SKK menjaga Liv.
* Di dalam rumah, saudara-saudara tiri Liv (seorang anak laki-laki dan perempuan) sedang merayakan pesta kelulusan mereka ke Sekolah Negara (State School). Mereka mengeluh karena balon pesta mereka kurang dan menyuruh Liv membantu, tanpa menyadari bahwa Liv sebenarnya sudah pergi dari rumah.
* Melalui percakapan dengan mereka, terungkap bahwa hari itu adalah hari peringatan kematian ibu kandung Liv. Saudara tirinya meremehkan Liv dan menyebutnya tidak akan bisa mengubah dunia. SKK membela Liv dengan menegaskan bahwa di masa depan Liv akan menjadi sosok yang luar biasa dan berharga.
* SKK meninggalkan rumah tersebut dan menerjang badai hutan hingga tubuhnya terhempas ke batang pohon besar. Di tengah keputusasaan, sekumpulan pesawat kertas bercahaya muncul mengelilingi dan menuntun SKK ke sebuah kabin kayu terisolasi.
* Di dalam kabin, SKK melihat proyeksi Liv kecil yang sedang melipat pesawat kertas sendirian sambil berbicara bahwa pesawat kertas adalah peri angin peninggalan ibunya. Liv kecil mengungkapkan harapannya bahwa suatu hari akan ada seseorang yang datang untuk melindunginya, dan ia pun ingin melindungi orang tersebut.
* Gaya gravitasi ingatan yang kuat mencoba mengusir SKK karena ia tidak termasuk dalam masa kecil Liv. Sebelum visi tersebut hancur sepenuhnya, SKK berteriak menembus badai kepada Liv kecil bahwa di masa depan ia adalah Commandant-nya dan berjanji akan datang mencarinya. Proyeksi Liv kecil mengejar cahaya tersebut sebelum akhirnya cahaya itu pecah menjadi pesawat kertas kosong.
* Kesadaran kembali ke realitas. Narasi menegaskan realitas pahit masa lalu Liv: pada hari badai itu, tidak ada seorang pun yang datang menyelamatkannya di basis rahasia.
* Liv tersadar dari kilas balik memorinya bersama almarhumah ibunya, Antonia, tentang legenda berkat Dewa Angin. Ia melihat menara kincir angin kota bergoyang parah akibat badai ekstrem dan terancam runtuh menimpa kota Vennquis.
* Demi melindungi kota peninggalan ibunya, dirinya sendiri, dan SKK, Liv mengambil keputusan bulat untuk menggunakan kekuatannya demi menstabilkan menara kincir angin tersebut.

## Liv: Limpidity VII

![](https://assets.huaxu.app/glb/image/bgcomic/v400liv/v400_08_02.webp)

* Peristiwa dimulai dengan SKK yang terbangun di dalam kabin basis rahasia milik Liv setelah sempat pingsan akibat menggunakan daya Mind Beacon secara berlebihan di tengah badai.
* Vimine, yang berada di sana, menjelaskan bahwa Liv yang membawa SKK ke kabin tersebut agar aman karena pusat kota sudah mulai tersapu badai. Sementara itu, Liv sendiri kembali ke menara kincir angin tua yang tidak stabil demi melindungi struktur kota.
* Mendengar hal tersebut, SKK langsung bangkit dan menerobos keluar kabin meskipun dilarang oleh Vimine akibat cuaca buruk.
* Di tengah hutan, SKK berjuang melawan angin kencang hingga ia menemukan pesawat kuno Gray Wing-537 yang tertimpa dahan pohon. SKK dibantu oleh mechanoid G94 yang selama ini setia merawat pesawat tersebut atas perintah ayah Liv.
* Vimine menyusul dan memperingatkan bahaya ekstrem menerbangkan pesawat di tengah badai kencang. Namun, SKK bersikeras karena tidak ingin meninggalkan Liv sendirian lagi seperti di masa lalu.
* SKK bersama G94 mendorong pesawat ke area terbuka. SKK mengambil alih kokpit, menyalakan mesin yang kini bertenaga angin, lalu lepas landas menembus badai menuju menara kincir angin.
* Sementara itu di dalam gereja kincir angin, Liv berjuang menggunakan sisa energi frame-nya untuk mengalihkan tekanan angin demi menjaga menara agar tidak runtuh. Di tengah keputusasaan dan rasa takut kehilangan SKK, Liv melihat pesawat Gray Wing datang menembus awan badai menuju ke arahnya.
* Melalui koneksi M.I.N.D., SKK dan Liv melanjutkan bagian akhir dari dongeng "The Maiden of Eden" yang belum sempat diselesaikan oleh ibunya:
  * Dalam kelanjutan cerita, sang Gadis yang terjatuh dari Eden diselamatkan oleh mahluk-mahluk bumi yang pernah ia sembuhkan (pohon menjulurkan akar, merpati putih membentuk sayap cahaya).
  * Sang Gadis (simbol dari Liv) kemudian bertemu kembali dengan gagak abu-abu kecilnya (simbol dari "Gray Raven"/SKK) yang telah pulih. Kisah dongeng tersebut berakhir bahagia dengan keduanya tetap bersama.
* Di dunia nyata, pesawat berhasil menembus dinding mata badai (eyewall) dan masuk ke area pusat badai yang tenang dan cerah. Liv masuk ke dalam pelukan SKK di dalam kokpit, lalu menyatakan perasaannya ("I love you") diikuti dengan sebuah kecupan hangat.
* Setelah badai mereda, pesawat Gray Wing mendarat kembali ke dunia fana dengan selamat.
* Di hari terakhir mereka di Vennquis, Liv dan SKK berjalan-jalan menyusuri pantai berpasir yang hangat. Liv menunjukkan selembar kertas berisi ilustrasi akhir cerita bahagia yang digambar khusus oleh Vimine sebagai pelengkap manuskrip ibunya.
* Karena lukisan tersebut tidak bisa dipajang di Babylonia, Liv dan SKK melipat kertas manuskrip tersebut menjadi sebuah pesawat kertas.
* Mereka berdua menerbangkan pesawat kertas tersebut ke arah laut lepas sebagai simbol pengiriman pesan kepada almarhumah Antonia di surga, bahwa Liv kini telah menemukan kebahagiaannya yang sejati bersama SKK.
